Total Tayangan Laman

Rabu, 11 Januari 2012

model pembelajaran tutor sebaya


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Belajar mencakup semua aspek tingkah laku dan dapat dilihat dengan nyata, proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi belajar bukan merupakan tingkah laku yang nampak tetapi merupakan proses yang terjadi secara internal dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan yang baru.
Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

1.2.  Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud Tutor Sebaya ?
B.  Bagaimana langkah pelaksanaan metode Tutor Sebaya ?
C. Apa keuntungan dan kelemahan dalam metode Tutor Sebaya ?
D. Apa saja materi yang cocok untuk SMP maupun SMA ?




1.3.  Tujuan dan Manfaat Penulisan
A.       Untuk megetahui pengertian metode belajar Tutor Sebaya terlebih dahulu.
B.       Untuk menggambarkan langkah-langkah pelaksanaan Tutor Sebaya.
C.       Untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan metode belajar Tutor Sebaya.
D.       Untuk mengetahui apakah cocok untuk materi di SMP/SMA.
























BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Tutor Sebaya
Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber belajar dapat orang lain yang bukan guru, melainkan teman dari kelas yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarganya di rumah. Sumber belajar bukan guru dan berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. Ada 2 macam tutor, yaitu tutor sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang lebih pandai, dan tutor kakak adalah tutor dari kelas yang lebih tinggi. (Harsunarko, 1989, h.13)
Sehubungan dengan itu ada beberapa pendapat mengenai tutor sebaya, diantaranya adalah:
     Dedi Supriyadi (1985, h.36) mengemukakan bahwa:
“Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih tinggi”.
Ischak dan Warji (1987, h.44) mengemukakan bahwa:
“Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran dan memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya”. Sedangkan Conny Semiawan, dkk. (1987, h.70) mengemukakan tentang tutor sebaya itu adalah:”siswa yang pandai dapat memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai. Bentuan tersebut dapat dilakukan kepada teman-teman sekelasnya di luar sekolah”. 
    
Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi atau latihan kepada teman-temannya yang belum paham. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.
Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil. Pengembangan mutu pendidikan dalam proses belajar mengajar harus mampu memilih dan menerapkan berbagai pendekatan dan metode untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.Dalam pembelajaran matematika sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk pembelajaran yang lain.
Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya. Kuswaya Wihardit dalam Aria Djalil (1997:3.38) menuliskan bahwa “pengertian tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama” Sisi lain yang menjadikan matematika dianggap siswa pelajaran yang sulit adalah bahasa yang digunakan oleh guru. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru. Itulah sebabnya pembelajaran tutor sebaya diterapkan dalam proses pembelajaran  matematika.
Kualitas prestasi belajar siswa mata pelajaran matematika dengan nilai rata-rata di bawah 60 mencapai 58,9 %. Padahal nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran matematika  adalah 65. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode tutor sebaya. Metode tutor sebaya memberikan kesempatan siswa yang telah tuntas belajar untuk memberikan bantuan kepada teman sebayanya, sehingga tidak akan canggung bertanya bila ada yang kurang jelas. Dari hasil analisis data penelitian, pembelajaran matematika dengan penggunaan metode tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Hal ini terbukti dari 17 siswa, 16 siswa (94%) telah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 65, meskipun ada 1 (6%) siswa yang belum mencapai ketuntasan individu.
Namun demikian, nampaknya masih sangat diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam memperdayakan keaktifan dan prestasi belajar siswa di sekolah tersebut. Guru diharapkan dalam menyampaikan materi tidak hanya dengan keterangan lisan dan monoton melainkan juga dengan menggunakan metode pembelajaran yang variatif. Selain itu, diharapkan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Matematika karena dengan metode ini siswa menjadi lebih aktif berfikir dan berbuat selama kegiatan belajar mengajar.
2.2    Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Tutor Sebaya
Hisyam Zaini dalam Amin Suyitno (2004:24) menyatakan bahwa “Metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya.”
Menurut Miller (1989) dalam Aria Djalil ( 1997:3.34) berpendapat bahwa “Setiap saat murid memerlukan bantuan dari murid lainnya, dan murid dapat belajar dari murid lainnya.” Jan Collingwood (1991:19) dalam Aria Djalil (1997:3.34) juga berpendapat bahwa “Anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergaul dengan teman lainnya.” Pada pembelajaran menentukan KPK dan FPB misalkan siswa kelas VI akan dibawa pada model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok-kelompok belajar.

*      Maka langkah-langkah Metode Tutor Sebaya adalah sebagai berikut.
  1. Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri. Materi pengajaran dibagi dalam sub-sub materi (segmen materi). Misalnya siswa diberi soal latihan tentukan KPK dan FPB dari pasangan bilangan 24 dan 18, maka segmen materi yang diberikan adalah sebagai berikut. Kelipatan dari 24 adalah : 24, 48,…,…,(diisi oleh siswa) , Kelipatan dari 18 adalah : 18, 36,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 24 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa). Faktor dari 18 adalah : …,…,…,(diisi oleh siswa).
  2. Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya.
  3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
  4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
  5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
  6. Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara barurutan sesuai dengan urutan sub materi, beri kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswa yang perlu diluruskan.
Dari uraian tersebut di atas selanjutnya dapat dikembangkan dalam bentuk soal yang lain untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan demikian oleh model pembelajaran ini dalam diri siswa akan tertanam kebiasaan saling membantu antar teman sebaya.
Agar model pembelajaran tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, Miler (dalam Aria Djalil 1997:2.48) menuliskan saran penggunaan tutor sebaya sebagai berikut.

a)      Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai.
b)      Jelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas). Misalnya : agar pelajaran matematika dapat mudah dipahami.
c)      Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai.
d)     Gunakan cara yang praktis.
e)      Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru.
f)       Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan tutor.
g)      Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor.
h)      Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya.
i)        Jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong.
2.3    Kelebihan dan Kelemahan Metode Tutor Sebaya
Pengajaran tutor sebaya ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap pengajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan padat sehingga guru atau tenaga pengajar tak dapat memberikan bantuan individual, bahkan sering tidak mengenal para pelajar seorang demi seorang. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa para siswa menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang menggunakan proses belajar-mengajar yang sama bagi semua siswa tidak akan sesuai bagi kebutuhan dan kepribadian setiap siswa. Maka karena itu perlu dicari sistem pengajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi pengajaran tutor sebaya.
Ø  Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya, anak-anak diajar untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau ketinggalan. Di sini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja. Pada diskusi kelompok kecil, guru dapat bergerak dengan leluasa. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk bertanya ataupun minta bantuan
Jadi, kita dapat menugaskan siswa pandai untuk memberikan penjelasan kepada siswa kurang pandai (tutor sebaya). Demikian juga, anjurkan siswa kurang pandai untuk bertanya kepada atau meminta penjelasan dari siswa pandai terlebih dahulu sebelum kepada gurunya. Hal ini untuk menanamkan kesan bahwa belajar itu bisa dari siapa saja, tidak selalu dari guru yang akibatnya tergantung kepada guru. Sehingga Tutor dikatakan berhasil jika dapat menjelaskan dan yang dijelaskan dapat membuktikan bahwa dia telah mengerti atau memahami dengan cara hasil pekerjaannya.
Ø  Sedangkan Kelemahan Metode Tutor Sebaya ini antara lain :
a)    Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.
b)   Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.
c)    Tidak semua siswa yang menjelaskan kepada teman dapat memahami semua materi yang dibahas.
d)   Tidak semua murid pandai yang menjelaskan kepada temannya dapat dipahami oleh siswa lainnya, karena siswa pandai dalam teori belum tentu dapat menjelaskan kepada temannya.

2.4    Materi yang cocok untuk SMP/SMA  
Topik 1: Persamaan Kuadrat
Tingkat : SMP
Kelas : III
Alasan memilih materi Persamaan Kuadrat adalah ada seorang siswa atau beberapa siswa cukup mampu membaca dan menerapkan konsep Persamaan Kuadrat sehingga siswa yang lain dapat menyelesaikan masalah persamaan kuadrat dengan mudah dengan dibantu oleh tutor.
Setelah Guru menugaskan kepada para siswa untuk memahami pengertian persamaan kuadrat dan cara menyelesaikan persamaan kuadrat, guru membuat setting kelas dengan menggunakan tutor sebaya. Lima orang siswa yang dianggap cukup mampu membaca dan menerapkan konsep persamaan kuadrat diangkat guru sebagai tutor pada grupnya yang terdiri atas lima sampai 6 anggota. Berikut ini adalh dialog antara siswa (S) dengan tutornya (T) di dalam salah satu kelompok dan dipantau oleh Guru.
S1: yang disebut persamaan kuadrat apa sih?
T: Bentuk umum persamaan kuadrat dalam x adalah ax2 + bx+c = 0 dengan a, b, dan c merupakan konstanta bilangan real dengan a  0.
S2: Mengapa a  0?
T: menurut kamu kalau a = 0 apa akibatnya?
S1: kalau a = 0, pada persamaan ax2 + bx+c = 0, menjadi 0x2+ 8x+13 = 0 atau 8x +13 = 0.
T: Apakah itu menjadi persamaan kuadrat?
S2: yang kuadrat apanya sih?
T: di sini pangkat tertinggi adalah 2, yang kuadrat itu pangkat x tertinggi. Jadi, ax2 + bx+c = 0 dibaca “ax kuadrat ditambah bx ditambah c”. Jadi kalau begitu 8x + 13 = 0 bukan persamaan kuadrat.
     Diskusi antara tutor dengan anggota kelompok di atas membicarakan pengertian persamaan kuadrat dalam x. Selnjutnya Tutor meminta anggota siswa lain memberikan contoh suatu persamaan kuadrat:
T: coba kalian berikan contoh suatu persamaan kuadrat!
S3: 3x2 + 4x + 5 = 0
S4: 6x – 20 + x2 = 0
S1: 12x – x2 = 0
T: Bagaimana pendapatmu s5, apabila 12x – x2 = 0 merupakan persamaan kuadrat?
S5: Bukan
T: Kenapa bukan persamaan kuadrat?
S5:Sebab di sini a = 12, b = -1 dan c = 0
T: Bukankah yang tidak boleh nol itu hanya a pada bentuk ax2 + bx+c = 0. Bagaimana pendapatmu S2?
S2: Menurut saya 12x – x2 = 0 adalh persamaan kuadrat, yang dapat disamakan dengan 1x2 + 12x + 0 = 0 sehingga a = -1  0, b = 12, dan c = 0. Di sini baik b maupun c boleh nol
T: Jadi kalau begitu 12x – x2 = 0 adalah persamaan kuadrat juga.
T: Selanjutnya apakah  merupakan persamaan kuadrat?
S3: Menurut saya persamaan ini tidak memenuhi kriteria, sebab ada pangkat 3-nya.
S4: Ya benar, itu bukan persamaan kuadrat.
T: Jadi persamaan kuadrat berbentuk ax2 + bx+c = 0 dengan a tidak nol.

Selanjutnya bagaimana menyelesaikan persamaan kuadrat?
T: Saat kamu mengganti x pada x2 – 6x + 8 = 0 dengan 4 maka akan kamu peroleh 42 -6(4) + 8 = 16 – 24 + 8 = 0, ini dikatakan bahwa 4 adalah penyelesaian dari x2 – 6x + 8 = 0, dan saat kamu mengganti x dengan 2, maka pada 22 -6(2) + 8 = 0 sehingga dikatakan bahwa 2 adalah penyelesaian dari persamaan x2 – 6x + 8 = 0. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa 4 dan 2 adalah penyelesaian dari persamaan x2 – 6x + 8 = 0.
S1: Apakah 3 merupakan penyelesaian dari x2 – 6x + 8 = 0?
T: Coba kamu periksa!
S2: 32 -6(3) + 8 = 9 – 18 + 8 = -1 dan ini tidak sama dengan nol
S1: Jadi 3 bukan penyelesaian dari persamaan kuadrat x2 – 6x + 8 = 0
T: Apakah ada cara khusus untuk mencari penyelesaian persamaan kuadrat?

Selanjutnya Tutor memberikan prosedur berikut ini:
T: Bagaimana perluasan dari bentuk (x – 2)(x – 7) = 0?
S4: Bentuk tersebut dapat dibuat menjadi x(x – 7) – 2(x – 7) = 0 atau x2 – 7x -2x + 14 = 0

Sata terjadi diskusi seperti ini guru sebagai fasilitator mendatangi kelompok ini dan menanyakan kembali sebagai berikut:
G: Apa yang terjadi apabila pekerjaannya dibalik! Bergerak dari belakang
T: Maksud pak Guru dari x2 – 7x – 2x + 14 = 0 kemudian x2 – 7x – 2x + 14= 0 dan x(x – 7) – 2(x – 7) = 0
G: Persis (jawab pak guru)
G: Kamu kan pernah belajar bahwa kalau ax b = 0 maka salah satunya harus nol atau kedua-keduanya nol.
T: Dari ab = 0 maka a = 0 atau b = 0, sehingga bentuk persamaan (x – 2)(x – 7) = 0 mengakibatkan (x – 2) = 0 atau (x – 7) = 0
G: Selanjutnya apa akibatnya? Coba kamu S4 pikirkan!
S4: (x – 2) = 0 berakibat x = 2
S5: (x – 7) = 0 akibatnya x = 7
T: Kalau begitu persamaannya mempunyai penyelesaian x = 2 dan x = 7.
     Dialog dan diskusi seperti di atas dapat diteruskan sampai menemukan cara untuk menyelesaiakan persamaan kuadrat menggunakan pemfaktoran, melengkapkan kuadrat dan rumus kuadrat.

Topik 2: Menyederhanakan Pecahan
Tingkat: SMP
Alasan memilih materi menyederhanakan pecahan adalah siswa merasa nyaman apabila bertanya kepada si tutor dalam memecahkan masalah mengenai menyederhanakan pecahan.
Uraian materi
Kalian telah mengetahui cara menentukan pecahan senilai, yaitu dengan mengalikan atau membagi pembilang dan penyebutnya dengan bilangan yang sama, kecuali nol (0). Sekarang, perhatikan cara menemukan pecahan-pecahan senilai ini.
Pecahan  pada pengerjaan di atas tidak dapat dibagi lagi dengan bilangan lain selain nol. Dalam hal ini, pecahan  merupakan bentuk paling sederhana dari . Untuk memperoleh bentuk paling sederhana, pecahan  harus dibagi dengan bilangan 12. Coba cek apakah 12 adalah FPB dari bilangan 24 dan 36?
            Suatu pecahan , q ¹ 0 dapat disederhanakan dengan cara membagi pembilang dan penyebut pecahan tersebut dengan FPBnya. Hal ini dapat ditulis sebagai berikut. Dalam menyederhanakan sebarang pecahan , q ¹ 0 berlaku  = , di mana a Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari p dan q.

Contoh:
Nyatakan pecahan  dalam bentuk pecahan paling sederhana.
Penyelesaian:
FPB dari 18 dan 45 adalah 9.
 Jadi, bentuk pecahan paling sederhana dari  adalah

Menyatakan Hubungan Antara Dua Pecahan
Perhatikan Gambar 2.4 di samping.
 

                                   

(a)
(b)
 


Luas daerah arsiran pada Gambar 2.4 (a) menunjukkan  dari luas keseluruhan. Adapun luas daerah arsiran pada Gambar 2.4 (b) menunjukkan  dari luas keseluruhan. Tampak bahwa luas arsiran pada Gambar 2.4 (b) lebih besar dari luas arsiran pada Gambar 2.4 (a) atau dapat ditulis    atau .
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa untuk menyatakan hubungan dua pecahan, bandingkan pembilangnya, jika penyebut kedua pecahan sama. Adapun jika penyebut kedua pecahan berbeda, untuk membandingkan pecahan tersebut, samakan terlebih dahulu penyebut kedua pecahan (dengan menentukan KPK dari penyebut kedua pecahan), kemudian bandingkan pembilangnya.
Contoh:
Berilah tanda > atau < untuk setiap pernyataan berikut sehingga menjadi pernyataan yang benar.

Penyelesaian:
KPK dari 4 dan 3 adalah 12. Karena  maka  atau
 ,  
KPK dari 9 dan 12 adalah 36. Karena  maka


Topik 3: Operasi Hitung Bentuk Aljabar
Tingkat: SMP
Alasan: Berlatih menentukan Operasi Hitung pada Bentuk Aljabar
Uraian materi
Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar
Pada bentuk aljabar, operasi penjumlahan dan pengurangan hanya dapat dilakukan pada suku-suku yang sejenis. Jumlahkan atau kurangkan koefisien pada suku-suku yang sejenis.
Contoh:
Tentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar berikut.
a. –4ax + 7ax
b. (2x2 – 3x + 2) + (4x2 – 5x + 1)
c. (3a2 + 5) – (4a2 – 3a + 2)
Penyelesaian:
–4ax + 7ax = (–4 + 7)ax
= 3ax
(2x2 – 3x + 2) + (4x2 – 5x + 1)
= 2x2 – 3x + 2 + 4x2 – 5x + 1
= 2x2 + 4x2 – 3x – 5x + 2 + 1
= (2 + 4)x2 + (–3 – 5)x + (2 + 1) (kelompokkan sukusuku sejenis)
= 6x2 – 8x + 3
(3a2 + 5) – (4a2 – 3a + 2)= 3a2 + 5 – 4a2 + 3a – 2
= 3a2 – 4a2 + 3a + 5 – 2
= (3 – 4)a2 + 3a + (5 – 2)
= –a2 + 3a + 3
Perkalian
Perlu kalian ingat kembali bahwa pada perkalian bilangan bulat berlaku sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan, yaitu a x (b + c) = (a x b) + (a x c) dan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan, yaitu a x (b c) = (a x b) – (a x c), untuk setiap bilangan bulat a, b, dan c. Sifat ini juga berlaku pada perkalian bentuk aljabar.
Perkalian antara konstanta dengan bentuk aljabar
Perkalian suatu bilangan konstanta k dengan bentuk aljabar suku satu dan suku dua dinyatakan sebagai berikut.
k(ax) = kax
k(ax + b) = kax + kb

 



contoh:
Jabarkan bentuk aljabar berikut, kemudian sederhanakanlah.
a. 4(p + q)
b. 5(ax + by)
c. 3(x – 2) + 6(7x + 1)
Penyelesaian:
a. 4(p + q) = 4p + 4q
b. 5(ax + by) = 5ax + 5by
c. 3(x – 2) + 6(7x + 1)
= 3x – 6 + 42x + 6
= (3 + 42)x – 6 + 6
= 45x
Perkalian antara dua bentuk aljabar
Sebagaimana perkalian suatu konstanta dengan bentuk aljabar, untuk menentukan hasil kali antara dua bentuk aljabar kita dapat memanfaatkan sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan dan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan.
Selain dengan cara tersebut, untuk menentukan hasil kali antara dua bentuk aljabar, dapat menggunakan cara sebagai berikut. Perhatikan perkalian antara bentuk aljabar suku dua dengan suku dua berikut.
 

(ax + b) (cx + d) = ax x cx + ax x d + b x cx + b x d
                           = acx2 + (ad + bc)x + bd

Selain dengan cara skema seperti di atas, untuk mengalikan bentuk aljabar suku dua dengan suku dua dapat digunakan sifat distributif seperti uraian berikut.
(ax+b)( cx x d) =  ax( cx+ d) b( cx+ d)
=ax x cx + ax + d + b x cx + b x d
=acx2 + adx + bcx + bd
=acx2+( ad + bc)x + bd
Adapun pada perkalian bentuk aljabar suku dua dengan suku tiga berlaku sebagai berikut.
 

(ax + b) (cx2 + dx + e)

= ax x cx2 + ax x dx + ax x e + b x cx2 + b x dx + b x e
= acx3 + adx2 + aex + bcx2 + bdx + be
= acx3 + (ad + bc)x2 + (ae + bd)x + be
Contoh:
 Tentukan hasil perkalian bentuk aljabar berikut dalam bentuk jumlah atau selisih.

Selasa, 10 Januari 2012

jurnal penelitian 4

PENGEMBANGAN MATERI DAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA
REALISTIK BERBASIS MEDIA DAN BERKONTEKS LOKAL SURAKARTA
DALAM MENUNJANG KTSP
Slamet Hw dan Nining Setyaningsih
Jurusan Pendidikan Matematika,
FKIP - Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jalan A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
E-mail: ningsetya@yahoo.com.
ABSTRAK
Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menguji derajat keterpakaian model
Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Berbasis Media dan Berkonteks Lokal.
Ujicoba dilaksanakan di tiga Sekolah Dasar di tiga Kabupaten/Kota yaitu Surakarta,
Sukoharjo dan Boyolali. Melalui seting Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diperoleh
simpulan bahwa: (1) model yang dirancang dapat diimplementasikan dengan baik di
semua tingkatan mulai Kelas 1 sampai Kelas 6, (2) media Pembelajaran yang dirancang
untuk menunjang proses pembelajaran mudah diperoleh di semua lokasi ujicoba, (3)
media pembelajaran yang dirancang untuk menunjang proses pembelajaran mudah
digunakan, baik oleh guru maupun siswa, (4) penerapan model pembelajaran matematika
realistik berbasis media dan berkonteks lokal dapat meningkatkan: minat, keaktifan,
kreativitas, kemandirian, dan penguasaan konsep siswa, dan (5) ternyata pelaksanaan
PMR memerlukan waktu yang lebih lama karena guru-guru belum biasa dengan model
yang baru. Dari temuan tersebut dapat dinyatakan bahwa model pembelajaran
matematika realistik berbasis media dan berkonteks lokal (Surakarta) memiliki derajat
keterpakaian yang tinggi, cukup efektif, namun kurang efisien karena memerlukan waktu
yang cukup.
Kata Kunci: pembelajaran matematika realistik, berbasis media, dan berkonteks lokal.
ABSTRACT
This is a research and development-based study which aims at examining the applicability
of Realistic Mathematics Leaning model based on Media and Local Context. This
model is tried out through classroom action research in three elementary schools in the
regency of Surakarta, Sukoharjo, and Boyolali. The study shows that (1) this model can
be well implemented in classroom grade 1 to 6, (2) the teaching media specifically
designed to enhance teaching learning process can be easily used by both teachers and
learners (3) Realistic Mathematics Leaning model based on Media and Local Context is
effective to promote learners’ motive, creativity, activity, independance, and mastery of
the concept, and (5) this model takes longer time than the common model since this is
126 Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 11, No. 2, Agustus 2010: 125-142
new for the teachers; they are not used to using it in the classroom. The conclusion
drawn from this study is that this learning model has high degree of applicability and is
effective but not quite efficient for it is time consuming.
Key words: realistic mathematics learning model, media, and local context.
selengkapnya dapat dilihat di 
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=PENGEMBANGAN+MATERI+DAN+MODEL+PEMBELAJARAN+MATEMATIKA+REALISTIK+BERBASIS+MEDIA+DAN+BERKONTEKS+LOKAL+SURAKARTA+DALAM+MENUNJANG+KTSP&source=web&cd=1&ved=0CBoQFjAA&url=http%3A%2F%2Feprints.ums.ac.id%2F1735%2F&ei=sD8NT9n9J4LwrQelv4m4BA&usg=AFQjCNHLl9RBaDRSvTemj30H9ioLSTinQw&sig2=_ilYoTu5z7lIAsiUVH--KQ

jurnal penelitian 3

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SEKOLAH DASAR
I Nyoman Gita
Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas MIPA Undiksha
Abstrak
Penelitian ini bertujuan (1) meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD 3 Sambangan dengan implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatip berbantuan LKS, (2) mendeskripsikan tanggapan siswa kelas V SD 3 Sambangan terhadap implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatip berbantuan LKS. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD 3 Sambangan tahun ajaran 2006/2007 sebanyak 34 orang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Data penelitian tentang prestasi belajar matematika siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes. Data tentang tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan dikumpulkan melalui angket. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif. Nilai rata-rata prestasi belajar siswa pada skala sebelas pada akhir siklus I adalah 6,29 dan pada akhir siklus II reratanya 7,45. Jadi terjadi peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil angket yang diisi oleh semua subjek penelitian sebanyak 34 orang diperoleh 26 orang (76,47%) memberi tanggapan sangat positif, 8 orang (23,53%) memberi tanggapan positif. Nilai rata-rata skor tanggapan siswa adalah 43,29 tergolong positif.
Kata-kata kunci: Pendekatan kontekstual, pembelajaran
kooperatif
Abstract
The research aims to 1) increase student mathematic achievement, 2) description student’s response. The subjects of the study were the students of class V SD 3 Sambangan academic year of 2006/2007. This study was a classroom action research having two cycles. The data of the study were collected by means of test and questionnaire. Then the data were analyzed by using descriptive statistic. In cycles I, the mean 6.29 and in cycles II the
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 26
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
mean 7.45 The test result showed significan increase from cycles I to cycles II. The students’ response to learning models were 76.47% very positive, 23.53% positive. The students’ response was 43.29. It mean very positive category.
Key Word: Contextual teaching and learning, cooperative
learning
Pendahuluan
Peranan lingkungan dan keluarga sangat penting dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa disamping guru. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam hal menumbuhkembangkan minat siswa untuk meraih prestasi dalam bidang pelajaran tertentu termasuk matematika. Untuk itu seorang guru perlu mencari strategi alternatif dalam menumbuhkan minat siswa agar mau belajar dengan gembira (tanpa merasa dipaksa), sehingga dapat menimbulkan percaya diri pada siswa, yang pada akhirnya mereka dapat mengembangkan kemampuan yang telah ada tanpa mereka sadari. Tampaknya menggali kemampuan siswa dengan cara menumbuhkembangkan kemampuan yang telah ada belum pernah dilakukan oleh guru SD 3 Sambangan, sehingga pendidikan itu terkesan memaksa dan menjemukan. Lebih-lebih siswa tumbuh pada lingkungan dan keluarga yang kurang memahami pentingnya pendidikan. Orang tua tidak mengerti, lingkungan tidak mendukung, di sekolah merasa dipaksa mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dan berakhir dengan pengambilan keputusan untuk berhenti sekolah. Seperti halnya siswa SD 3 Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Anak-anak usia sekolah di Sambangan banyak yang putus sekolah. Mereka putus sekolah mungkin disebabkan oleh faktor ekonomi, lingkungan, atau mungkin saja akibat strategi pembelajaran di kelas kurang menarik dan tidak dapat membuat siswa merasa gembira datang ke kelas.
Sekolah Dasar (SD) memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan. Keberhasilan siswa di SD sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya di sekolah lanjutan. Menurut informasi dari guru SD 3 Sambangan diperoleh bahwa rata-rata prestasi belajar matematika siswa kelas V selalu di bawah enam. Dalam proses pembelajarannya, guru berupaya memberikan penjelasan materi secara lengkap. Dalam hal ini siswa cendrung dituntut untuk mengikuti contoh yang telah diberikan oleh guru.Tentunya pembelajaran seperti ini tidak relevan dengan tuntutan
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 27
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
Kurikulum Bernasis Kompetensi (KBK). Dari kenyataan ini jelaslah guru tersebut perlu dibantu dengan melibatkan yang bersangkutan pada suatu penelitian tindakan kelas dengan maksud agar disamping guru memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan KBK, juga dapat mengembangkan kompetensi siswa sesuai dengan yang digariskan dalam kurikulum.
Dalam proses pembelajaran, guru memulai dengan menjelaskan – memberi contoh latihan soal. Jadi siswa secara langsung diberikan rumus-rumus matematika tanpa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang berorientasi pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pembelajaran hendaknya diawali dari dunia nyata dan rumus diharapkan ditemukan oleh siswa sendiri. Sebagai contoh: sebelum menjelaskan sifat distributif yaitu a x (b+c) = (axb)+(axc) siswa diberi pertanyaan sebagai berikut. Wayan disuruh membeli beras sebanyak 9 kg. Harga beras per kg Rp.2900,-. Berapa rupiah Wayan harus membayar?. Cara siswa menjawab kemungkinan bervariasi. Beberapa kemungkinan cara siswa menjawab adalah: 9 x (3000-100) = (9x3000) – (9x100), atau (10-1)x2900 = (10x2900) – (1x2900) atau cara lainnya. Jadi jenis jawaban beragam
Pendekatan pembelajaran yang cocok dengan KBK adalah pendekatan kontekstual atau Contextual teaching and learning (CTL). Pada pembelajaran CTL guru tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta tetapi guru hendaknya mendorong siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui CTL siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghapal’.
Dalam pembelajaran, guru perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki siswa dan mengaitkan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsepsi awal ini dapat direkam dari pekerjaan siswa dalam LKS dan dari jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan guru yang disampaikan pada awal pembelajaran. Dalam pembelajaran biasanya siswa malu atau takut bertanya kepada gurunya dan lebih suka bertanya kepada teman-temanya. Oleh karena itu implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS perlu diterapkan.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (a) meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD 3 Sambangan dengan implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS., (b) mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS.
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 28
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
Metode
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD 3 Sambangan pada semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 sebanyak 34 orang.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang berlangsung dua siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi (Kemmis & Taggart, 1988).
Langkah-langkah dalam rencana tindakan adalah: (a) Penelitian ini diawali dengan mengadakan diskusi dengan guru matematika SLTPN 4 Singaraja yaitu Ibu Kartini tentang keadaan siswa pada tahun-tahun terdahulu. Hasil diskusi ini antara lain : para siswa kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran, kurang dalam pemahaman konsep, belum diterapkan pembelajaran kontekstual, tugas-tugas tentang materi yang sudah diajarkan, siswa yang belum mengerti malu mengacungkan tangan, (b) Peneliti bersama-sama guru matematika mendiskusikan kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswa. Dalam pertemuan ini disepakati menerapkan tindakan berupa “implementasi pendekatan kontekstual berbatuan LKS”, karena tindakan di atas dipandang cukup efektif dalam pembelajaran. Tindakan ini berlangsung tiga siklus, (c) Menyusun LKS, (d) Menyusun tes hasil belajar. Tes hasil belajar disusun dalam bentuk essai untuk mengukur hasil belajar siswa. Sedangkan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap model pembelajaran, siswa disuruh mengisi dengan bebas pada selembar kertas lengkap dengan alasan.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan tindakan adalah: (a) Membagi kelas menjadi delapan kelompok; (b) Membagikan LKS kepada siswa untuk dikerjakan secara berkelompok tentang materi yang akan dibahas; (c) Selajutnya guru berkeliling di kelas untuk mengamati semua kelompok yang sedang mengerjakan tugas; (d) Setelah semua kelompok selesai mengerjakan tugas, guru menyuruh kelompok tertentu untuk mengerjakan soal nomor satu di papan tulis, selanjutnya kelompok lain memberikan tanggapan. Demikian seterusnya untuk soal nomor berikutnya; (e) Setelah semua tugas dalam LKS dikerjakan di papan tulis, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum dimengerti atau soal yang tidak dapat diselesaikan yang terdapat dalam buku paket. Jika ada siswa yang bertanya selalu diberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapinya; (f) Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang materi atau soal yang belum ditanyakan oleh siswa, dan memberikan penjelasan tentang materi
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 29
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
yang memang tidak dapat dipahami oleh siswa dengan mempelajari sendiri atau secara kelompok.
Selama pelaksanaan tindakan, dilaksanakan observasi terhadap perilaku siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Observasi dilakukan oleh peneliti bersama praktisi. Selanjutnya semua hasil observasi ini dievaluasi untuk mengetahui ketepatan prosedur pelaksanaan tindakan atau kebermaknaan tindakan.
Hasil observasi dievaluasi dan direfleksikan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada siklus pertama dilakukan tiga kali refleksi yaitu sebelum tindakan, di pertengahan tindakan dan di akhir tindakan.
Refleksi di awal kegiatan pada siklus pertama bertujuan untuk merencanakan tindakan. Refleksi di pertengahan merupakan semi refleksi dilakukan oleh peneliti bersama praktisi, bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan tindakan sebelumnya agar tindakan berikutnya lebih sempurna. Refleksi di akhir siklus pertama yang dilakukan oleh peneliti bersama praktisi adalah untuk mencermati dampak negatif dan dampak positif tindakan pada siklus pertama dan digunakan sebagai bahan perbaikan perencanaan tindakan siklus kedua.
Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dan angket. Teknik observasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang dampak positif dan negatif dari tindakan yang dilakukan. Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang prestasi belajar siswa. Sedangkan angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan.
Data tentang prestasi belajar siswa dianalisis dengan menghitung reratanya, daya serap dan ketuntasan belajar. Data tentang tanggapan siswa terhadap tindakan yang dilakukan, dianalisis menghitung rerata, mean ideal, standar deviasi ideal selanjutnya dikatagorikan menggunakan kriteria yang ditetapkan.
Hasil
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD 3 Sambangan pada semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 sebanyak 34 orang.
Rerata prestasi belajar pada siklus I adalah 6,29 DS 62,9% dan KK 52,94%. Bila dicermati lebih mendalam terlihat bahwa ada 9 orang siswa (26,47%) yang mendapat skor kurang dari 5, bahkan ada 2 orang siswa JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 30
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
(5,88%) yang mendapat skor kurang dari 2. Namun ada juga siswa yang mendapat skor 10 sebanyak 4 orang siswa (11,76%).
Rerata prestasi belajar pada siklus I adalah 7,45 DS 74,5% dan KK 79,41%. Bila dibandingkan dengan rerata prestasi belajar pada siklus I maka terjadi peningkatan yang cukup besar yaitu dari 6,29 pada siklus I mejadi 7,45 pada siklus II. Pada siklus II terdapat 12 orang siswa (35,29%) yang memperoleh skor 10. Terdapat tiga orang siswa (8,82%) yang memperoleh skor kurang dari 5.
Pada akhir siklus II disamping diadakan tes prestasi belajar juga disebarkan angket kepada siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadapa pembelajaran yang diterapkan. Rerata tanggapan siswa adalah 43,29. Bila dibandingkan dengan kriteria maka tanggapan siswa tergolong sangat positif. Bila dicermati lebih mendalam terdapat 26 orang siswa (76,47%) yang memberi tanggapan sangat positif, 8 orang siswa (23,53%) yang memberi tanggapan positif. Hasil ini sesuai dengan pengamati peneliti selama pembelajaran yaitu siswa tampak senang mengikuti pembelajaran. Siswa berani mengemukakan pendapat maupun mengajukan pertanyaan.
Pembahasan
Sebelum melaksanakan penelitian, sebagai tahap awal peneliti mengadakan diskusi dengan guru kelas V SD 3 Sambangan tentang keadaan siswa pada tahun-tahun sebelumnya. Hasil diskusi ini antara lain : para siswa kurang termotivasi dalam mengikuti pembelajaran, kurang dalam pemahaman konsep, belum diterapkannya belajar berkelompok, tugas-tugas tentang materi yang sudah diajarkan, siswa yang belum mengerti malu mengacungkan tangan untuk bertanya. Setelah kegiatan refleksi awal peneliti bersama guru matematika mendiskusikan kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswa. Dalam pertemuan tersebut disepakati menerapkan tindakan berupa implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS. Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada akhir tiap siklus diadakan tes prestasi belajar dan khusus pada akhir siklus II di samping dilaksanakan tes prestasi belajar juga dilaksanakan penyebaran angket untuk diisi oleh siswa.
Pada siklus I diskusi kelompok belum berlangsung optimal. Pada tiap-tiap kelompok masih tampak lebih mengutamakan penonjolan individu. Hal ini tampak dari anggota kelompok yang lebih suka mengerjakan ke depan kelas sebelum membantu pemahaman teman dikelompoknya. Untuk
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 31
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
mengatasi ini guru berulang-ulang memberitahukan agar soal-soal yang diberikan didiskusikan dulu dikelompoknya dan jika ada siswa yang belum mengerti supaya menanyakan kepada teman sekelompoknya. Dari delapan kelompok yang ada tampak satu kelompok yaitu kelompok VIII yang kurang aktif dan kurang serius mengikuti proses pembelajaran. Pada akhir siklus I diadakan tes prestasi belajar. Berdasarkan analisis data diperoleh rerata prestasi belajar siswa adalah 6,29, daya serap 62,9% dan ketuntasan belajar 52,94%. Bila dicermati lebih mendalam terdapat 10 siswa (29,41%) yang memperoleh skor kurang dari 5.
Pada siklus II diskusi kelompok berjalan sangat baik. Anggota kelompok yang sudah mengerti mau memberi penjelasan kepada teman dikelompoknya yang belum mengerti dan yang belum mengerti tidak malu-malu menanyakan kepada teman sekelompoknya. Bahkan siswa berani bertanya kepada guru bila semua anggota kelompoknya belum yakin terhadap hasil diskusinya. Bila disuruh ke depan kelas hampir semua siswa mengacungkan tangan, walaupun setelah ditunjuk ke depan ada yang salah. Ini berarti siswa sudah berani mengemukakan pendapatnya tidak peduli salah atau benar. Pada siklus II ini guru lebih banyak memberikan bimbingan kepada siswa yang nilainya kurang pada siklus I. Hasil tes prestasi belajar pada akhir siklus II menunjukkan rerata kelas 7,45. Bahkan bila dicermati lebih mendalam terdapat 15 siswa (44,12%) yang memperoleh skor di atas 8, bahkan ada 12 siswa (35,29%) yang memperoleh skor 10. Tetapi terdapat 2 siswa (5,88%) yang memperoleh skor kurang dari 5. Bila dibandingkan dengan siklus I terdapat penurunan jumlah siswa yang memperoleh skor kurang dari 5 yaitu dari 29,41% menjadi 2,88%. Demikian juga terjadi peningkatan rerata kelas dari 6,29 menjadi 7,45.
Dari hasil analisis data prestasi belajar pada akhir siklus II seperti yang diuraikan di atas diperoleh daya serap 74,5% yang berati telah melampaui tuntutan kurikulum yaitu daya serap minimal 65%. Namun ketuntasan belajar yang dicapai pada akhir siklus II yaitu 79,41% belum memenuhi tuntutan kurikulum yaitu ketuntasan belajar minimal 85,00%. Ini berarti kemampuan siswa kelas V SD 3 Sambangan masih heterogen. Pada siklus II pembelajaran berjalan sangat baik, namun setelah berselang beberapa hari ternyata masih banyak siswa yang lupa dengan materi pelajaran. Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi sekolah yang terletak di pedesaan sehingga kemungkinan ada siswa yang tidak belajar di rumah karena bekerja membantu orang tuanya.
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 32
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
Pada akhir siklus II di samping diadakan tes prestasi belajar, siswa juga diberikan angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan. Hasil analisis terhadap tanggapan siswa menunjukkan rerata 43,29 yang tergolong katagori sangat positip. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa siswa merasa senang dengan pembelajaran yang diterapkan yaitu implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS
Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa implementasi pendekatan kontekstual melalui pembelajaran kooperatif berbantuan LKS dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas V SD 3 Sambangan. Hal ini dapat dilihat dari terjadinya peningkatan skor rata-rata kelas dari 6,29 pada siklus I menjadi 7,45 pada siklus II. Meskipun ketuntasan belajar belum memenuhi tuntutan kurikulum yaitu minimal 85% tetapi ketuntasan belajar siswa juga meningkat dari 52,94% pada siklus I menjadi 79,41% pada siklus II. Rerata tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan adalah 43,29 yang tergolong sangat positif.
Berdasarkan simpulan di atas, maka dikemukakan saran-saran berikut (a) Disarankan kepada guru matematika kelas V SD untuk mencobakan pembelajaran di atas dengan lebih banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dalam kelompoknya dan guru membantu seperlunya saja karena pembelajaran tersebut dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif, (b) Disarankan kepada peneliti lain untuk mengembangkan model pembelajaran di atas dan mencobanya di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Daftar Rujukan
Direktorat PLP. 2002. Pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning). Jakarta: Depdiknas.
Kemmis,W. C & Taggart, R. M. 1988. The action research planner. Geelong Victoria: Deakin University Press.
Nur, M., & Wikandari, P. R. 1998. Pendekatan-pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran. Program Pasca Sarjana IKIP Surabaya.
JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 33
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan 1(1), 26-34
Pujawan, I G. N. 2001. Intensifikasi tes formatif dan umpan balik terstruktur melalui pembelajaran kooperatif bermodul dalam meningkatkan kualitas perkuliahan stastika matematika I di PSP. Matematika STKIP Singaraja. Laporan Penelitian. P3M STKIP Singaraja.
Sadia, W. 1996. Model konstruktivis dalam belajar dan mengajar. Makalah. Disampaikan dalam seminar metode pembelajaran MIPA di Jurusan Pendidikan MIPA STKIP Singaraja Tanggal 1 Maret 1996 di Singaraja.
Slavin, R. E. 1995. Cooperative learning, theory, research, and practice. USA: Allyn & Bacon. JPPP, Lembaga Penelitian Undiksha, Agustus 2007 34